Modul 1.4.a.8 – Koneksi Antar Materi – Budaya Positif

TUGAS KONEKSI ANTAR MATERI
MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

OLEH: HAIRI DEFI
SMP NEGERI 35 PADANG
CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 8
KOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

Fasilitator               : Suhut Sudirman Simamora S.Pd
Pengajar Praktik     : Dra. Sri Indrawati Prihatin Ningsih, M.Si

Pada tahap ini CGP diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di paket Modul 1 dan membuat sebuah koneksi antar materi yang sudah dipelajari. CGP membuat sebuah kesimpulan dan refleksi yang disajikan dalam bentuk media informasi. Bacalah panduan berikut untuk membantu CGP membuat kaitan tersebut.

Buatlah sebuah kesimpulan mengenai peran Anda dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak,  serta Visi Guru Penggerak.
Menerapkan budaya positif adalah suatu hal yang harus dilakukan oleh seorang guru. Dengan penerapan budaya positif, maka akan menghasilkan suatu ekosistem sekolah yang penuh dengan suasana positif. Hal positif itu akan mudah menular jika dilakukan secara konsisten dan tentunya dilakukan secara kolaborasi. Karena beragamnya karakter siswa dan guru, kita harus mengetahui konsep-konsep inti budaya positif dalam penerapannya. Konsep-konsep inti dalam budaya positif di antaranya disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, dan segitiga restitusi. Materi tentang budaya postif sangat berkaitan dengan modul yang dipelajari sebelumnya, yakni:

  • Kaitan Budaya Positif dengan Materi Modul 1.1. Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara.
    Budaya positif sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Dalam Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dijelaskan mengenai pendidikan yang menuntun sesuai dengan kodrat anak. Dalam proses menuntun tersebut tentunya membutuhkan ekosistem pendidikan yang menerapkan budaya positif.
  • Kaitan Budaya Positif dengan Materi Modul 1.2. Peran dan Nilai Guru Penggerak
    Pemahaman tentang budaya positif akan mendukung peran dan nilai guru penggerak dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Guru harus senantiasa menerapkan konsep inti budaya positif dalam mengaktualisasikan nilai dan peran yang dimilikinya.
  • Kaitan Budaya Positif dengan Materi Modul 1.3. Visi Guru Penggerak
    Dalam rangka mewujudkan visinya, seorang guru penggerak harus menerapkan budaya positif dalam prosesnya. Visi guru yang luar biasa akan mudah tercapai jika dirinya dan lingkungan pembelajarannya sudah menerapkan budaya positif.

    Buatlah sebuah refleksi dari pemahaman Anda atas keseluruhan materi Modul Budaya Positif ini dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

    1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?
      • DISIPLIN POSITIF
        Disiplin positif adalah pendekatan untuk menuntun kodrat anak agar berdaya dalam mengontrol diri dan menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu nilai-nilai kebajikan. Disiplin positif menjadi komponen utama dalam mewujudkan budaya positif.
      • TEORI KONTROL
        Di dalam teori kontrol dijelaskan bahwa yang bisa mengontrol seseorang adalah dirinya sendiri. Seseorang akan melakukan sesuatu atau tidak tergantung dari dalam diri orang tersebut sesuai dengan motivasi pemenuhan dasar yang dimilikinya.
      • TEORI MOTIVASI
        Perilaku yang ditunjukkan manusia pasti memiliki motivasi dan tujuan. Motivasi dibagi menjadi dua, yakni motivasi internal dan eksternal. Motivasi internal adalah motivasi yang diinginkan oleh seseorang dalam rangka menghargai diri dnegan nilai yang diyakininya. Sementara itu, motivasi eksternal di antaranya adalah keinginan yang dilakukan dalam rangka menghindari ketidaknyamanan/hukuman atau ingin mendapatkan imbalan/penghargaan.
      • HUKUMAN DAN PENGHARGAAN
        Hukuman dan penghargaan adalah salah satu cara mengontrol perilaku murid yang secara tidak langsung menghambat potensinya. Dalam jangka waktu tertentu, baik hukuman dan penghargaan akan sama-sama memberikan dampak yang sama, yakni ketergantungan (bukan kemerdekaan) dan tentunya mematikan motivasi internal seseorang
      • POSISI KONTROL
        Sebagai Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau, Manajer
      • KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
        Bertahan hidup, kasih sayang dan rasa diterima, penguasaan Kebebasan, Kesenangan
      • KEYAKINAN KELAS
        Keyakinan kelas adalah nilai-nilai kebajikan yang diyakini oleh warga kelas untuk menumbuhkan motivasi internal dan budaya positif di kelas
      • SEGITIGA RESTITUSI
        Menstabilkan Identitas, Validasi Tindakan yang salah, Menanyakan keyakinan
    1. Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?
      Setelah mempelajari modul ini, saya berfikir bahwa untuk menciptakan budaya positif di kelas maupun disekolah harus melibatkan siswa dalam perencanaan hingga pelaksanaan budaya positif, dengan harapan mewujudkan kelas atau sekolah yang nyaman, aman, positif berdasarkan keyakinan kelas atau sekolah yang diyakini bersama
      Perubahan lainnya bahwa posisi kontrol saya yang selam ini sebagai penghukum atau pemantau atau pembuat merasa bersalah ternyata kurang tepat untuk mewujudkan disiplin, sehingga saya perlu merubahnya menjadi posisi kontrol MANAJER dan menerapkan segitiga RESTITUSI dalam mengatasi berbagai masalah murid
    1. Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?
      Pengalaman yang pernah saya alami dalam menerapkan konsep modul budaya positif, ketika saya mempunyai keinginan dan mencoba untuk menyelesaikan permasalahan pelanggaran disiplin siswa dengan memposisikan sebagai Manajer, terkadang sikap saya berbenturan dengan budaya sekolah yang terbiasa menghukum siswa sebagai langkah jitu membentuk disiplin, maka dari itu, saya memerlukan suatu pendekatan khusus dalam mensosialisasikan hal ini kepada teman sejawat sehingga semua guru mempunyai pandangan yang sama dalam menyelsaiakan masalah murid
    1. Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?
      Perasaan saya ketika mengalami hal tersebut adalah saya merasa lebih tertantang untuk mengimplementasikan posisi guru sebagai manajer dan menerapkan segitiga restitusi dalam menangani kasus indisipliner siswa, karena dengan menempatkan diri sebagai MANAJER, guru akan memberikan kesempatan kepada murid untuk mempertanggungjawabkan perilaku dan mendukung murid menemukan solusi atas permasalahannya.
      Saya juga merasa tertantang untuk menyusun strategi untuk mensosialisasikan konsep budaya positif kepada rekan sejawat, agar kami dapat berkolaborasi melakukan perubahan budaya postif dikelas maupun sekolah
    1. Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?
      Menurut saya, hal baik yang sudah ada dilingkungan kelas dan sekolah adalah DISIPLIN POSITIF, NILAI-NILAI KEBAJIKAN, SERTA KEYAKINAN KELAS yang dibangun bersama dengan BERPIHAK PADA MURID. Adapun yang perlu diperbaiki adalah POSISI KONTROL seorang guru yang selama ini cenderung sebagai PENGHUKUM dan PEMBUAT MERASA BERSALAH, agar bisa berubah menuju posisi seorang MANAJER
    1. Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini, posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya?
      Sebelumnya, saya sering menggunakan posisi kontrol sebagai penghukum dan pemantau, saat itu perasaan saya adalah merasa benar dengan tindakan yang saya berikan kepada murid saya walaupun kadang hasil yang saya harapkan kurang signifikan. Setelah mempelajari modul ini, saya mulai mencoba menggunakan posisi kontrol sebagai MANAJER. Saat saya mampu memposisikan diri sebagai Manajer dengan penerapan SEGITIGA RESTITUSI, saya merasa bangga dengan murid saya yang lebih menunjukan rasa tanggung jawab saat memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya
    2. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?
      Sebelumnya saya pernah secara tidak sadar menggunakan segitiga restitusi, namun tahapan restitusinya tidak secara utuh, tahapan yang pernah saya lakukan adalah MENSTABILKAN IDENTITAS DAN VALIDASI TINDAKAN YANG SALAH. Saya belum sampai pada tahap MENANYAKAN KEYAKINAN, karena sebelumnya saya cenderung meminta siswa melakukan perbaikan atas kesalahannya berdasarkan cara saya sendiri
    3. Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?
      Hal yang menurut saya penting dalam menciptakan budaya positif adalah KOLABORASI atau KERJASAMA yang baik semua warga sekolah maupun stakeholder yang ada di kelas maupun sekolah serta sarana prasarana sekolah yang mendukung
      KERJASAMA warga sekolah dalam mewujudkan nilai-nilai kebajikan di perlukan agar dapat membangun Budaya Positip sekolah. SARANA PRASARANA sekolah sangat menunjang untuk mewujudkan sekolah yang nyaman, aman, dan mendukun proses pembelajaran yang menyenangkan